jangan tanya padaku apa itu cinta dan bagaimana untuk dicintai
tapi tanya padaku, bagaimana mencintai tanpa berharap untuk dicintai kembali…
-CS-
jangan tanya padaku apa itu cinta dan bagaimana untuk dicintai
tapi tanya padaku, bagaimana mencintai tanpa berharap untuk dicintai kembali…
-CS-

Merah Putih
Merah Putih…
itu warna bendera Indonesia. hampir semua orang Indonesia tau itu, walaupun warna serupa juga dipakai sama Monaco (persis lagi!). tapi pada tau juga kan kalo itu judul film? film baru yang dibintangin sama Lukman Sardi, Zumi Zola, Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, dan Teuku Rifnu. film yang bernapaskan semangat nasionalisme ini sengaja milih tanggal yang dekat dengan Hari Kemerdekaan Indonesia untuk dirilis.
pendapat saya? bagus! dengan sinematografi dan jalan cerita yang mengalir, film ini bagus dan cukup membanggakan. semangat nasionalisme yang diserukan oleh pejuang-pejuang Indonesia dengan latar belakang suku, budaya, dan agama yang berbeda-beda menjadikan film ini layak ditonton. bukan apa-apa, sekarang ini nyawa manusia terasa murah. karena hal sepele, wuuushhh… nyawa orang melayang melewati batas waktu menuju alam kekal. orang Jawa, orang Bali, orang Manado, semua bersatu untuk Indonesia merdeka. coba tontonlah, lalu jawab pertanyaan ini: apakah kalian merasa malu? apakah kalian merasa tersindir? kalau iya adalah jawaban atas kedua pertanyaan itu, silahkan simpulkan sendiri apa yang sudah kalian lakukan dan pikirkan selama ini. saya sendiri merasa malu! malu karena saya tidak bisa seperti para pejuang dulu yang rela bersatu menekan ego dan emosi demi kebersamaan.
“orang Jawa lawan Orang Sulawesi, siapa yang menang? BELANDA!!!” (Soerono). sepenggal kalimat itu membuat saya berpikir, iya juga ya… berseteru dengan saudara sendiri itu tidak akan membawa hasil apa-apa. terkadang malah orang lain yang dapat untungnya, sedangkan yang berseteru? TIDAK DAPAT APA-APA!
film pertama dari trilogi ini sebenarnya lebih menceritakan awal dari invasi Belanda setelah kemerdekaan. bagaimana para pejuang beda suku, budaya, agama, bahkan kasta tersebut disatukan nasib. bagus!
seorang teman berkata: bangga melihat film Merah Putih, meskipun masih ada campur tangan orang asing di dalamnya.
tapi buat saya, sebuah negara tidak akan menjadi besar tanpa campur tangan orang lain, meskipun itu orang asing kita sebut. kalau Belanda tidak menjajah Indonesia, mungkin tidak akan pernah ada RI, yang ada negara Jawa, negara Sulawesi, dan lainnya. begitu juga film ini, jika tidak ada campur tangan “orang asing” yang mengerti bagaimana membuat film yang baik. daripada berpikir bahwa mereka campur tangan, bagaimana jika kita belajar dari mereka. sekalian kita mengajarkan budaya kita pada mereka. adil toh?
kita ini makhluk sosial, kawan… butuh orang lain untuk hidup. jadi jangan berpikiran jahat dulu ya…
intinya, film ini layak tonton… apalagi dengan gaungan Indonesia Unite yang sedang menggema di seantero negeri.
*tabik
-CS-